Kuliner Khas Blitar

Uceng, Kuliner Khas Blitar

Saya bukan orang Blitar, tapi jika ditanya makanan yang selalu membuat kangen Blitar, tanpa ragu saya akan menjawab Uceng, es pleret plus soto mbok Ireng. Ya tiga makanan yang hampir selalu saya sambangi saat saya berkunjung ke Blitar, selain mencicipi es betet khas Blitar.

Mungkin uceng tak sepopuler belut, wader atau lele yang kerap dijumpai di berbagai kota. Tapi uceng khas Blitar ini yang mengenalkan ikan kali lebih dari sekedar kudapan bergizi. Kali pertama saya mengenal uceng saat mampir ke warung Anda di daerah Bence, Garum. Warung yang sering saya singgahi saat perjalanan pulang ke Malang ini menyediakan masakan rumahan dengan menu andalan uceng dan udang sungai yang dimakan bersama nasi, sayur atau hanya sebagai cemilan saja.

Harga per porsinya saat itu sekitar Rp15 ribu, entah jika sekarang mengalami kenaikan. Uceng sering kali disajikan dalam kondisi panas, agar lebih nikmat disantap. Kadang jika ingin dibawa pulang, uceng yang dibungkus mika plastik ini terasa masih hangat bahkan jika membungkusnya tak terlalu rapat, uceng tetap terasa renyah sampai beberapa hari.

Selain di warung Anda, uceng juga menjadi menu utama di warung Sukaria yang terletak di Wlingi. Kabarnya, warung Sukaria ini yang kali pertama menjual uceng di kota Blitar. Jadi tak heran saat saya mampir ke sana, warung Sukaria yang didirikan Haji Sukaria ini lebih dikenal orang dibanding warung uceng lainnya.

lalapan uceng warung Sukaria

lalapan uceng warung Sukaria

Seperti halnya warung Anda, warung uceng Sukaria juga menyajikan uceng sebagai menu andalan yang dimasak goreng sebagai lalapan atau kuah sebagai sayur. Saya hanya sempat mencoba lalapan uceng, karena saya rasa uceng lebih enak disantap kering. Meski bisa jadi penilaian saya salah, toh banyak juga pelanggan yang membeli sayur uceng.

Bagi beberapa orang uceng warung Sukari berasa lebih gurih, lebih awet meski tidak dihangatkan selama 1 minggu lebih. Tapi beberapa yang lainnya menganggap uceng warung Sukari terasa lebih amis. Entah mana yang lebih dominan, mengingat setiap orang punya selera yang berbeda.

Saya tak ingin membahas selera, saya lebih suka menyoroti uceng, ikan kecil yang dipanen dari kali Lekso yang airnya masih jernih dan mengalir deras dari gunung Kelud. Uceng hanya bisa hidup di air bening tanpa terkontaminasi limbah, karena itu menyantap uceng bagi saya adalah sebuah nilai plus, mengingat saat ini minim sekali kudapan yang masih mengandalkan sumber daya alam yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s